Beranda Lainnya Lipsus Cerita Fildan Rahayu, Senandung Kehidupan! Antara Mimpi dan Harapan?

Cerita Fildan Rahayu, Senandung Kehidupan! Antara Mimpi dan Harapan?

774
Fildan Rahayu / Foto SoloPos.com
Fildan Rahayu / Foto SoloPos.com

Kelaparan, Dikeluarkan Dari Sekolah, dan Pinjam Sepatu di Setiap Lomba

Oleh : YUHANDRI HARDIMAN

Jakarta, FILDAN RAHAYU adalah sosok bertalenta seni, bakat ini terlihat sejak masih kecil bahkan hampir setiap denyut dan jiwanya adalah irama. Dia dari keluarga tak mampu, dalam riwayat pendidikan ia pernah dikeluarkan dari sekolah karena tak mampu membayar uang komite

GAIB! Tak seorang pun mengetahui masa depan, kita hanya bisa bermimpi, bekerja, dan terus berkarya. Ketika itu tahun 2007, Munarti Munizu SPd mengajar sebagai guru kesenian di kelas Fildan, kelas 10.3. Untuk pelajaran seni, Fildan selalu memperoleh nilai tinggi.

Fildan memiliki keinginan untuk sekolah di tengah perekonomian keluarganya yang lemah. Namun sudah beberapa kali Fildan tidak membayar uang komite dan terancam harus tinggalkan sekolah, ditambah kondisi ini tidak didukung oleh nilai akademik yang baik. Di mata sekolah ia adalah murid yang malas, tidak punya catatan, sepatu robek-robek. Namun siapa sangka ternyata hanya itu miliknya, bahkan barangkali buku adalah barang mewah baginya, sedangkan folpen adalah barang yang gampang-gampang susah baginya.

Sudah pasti Fildan tidak memiliki tali pinggang untuk mengencangkan celana lusuhnya, entah bagaimana mendapatkan pakaian sekolah, tetapi pakaian sekolahnya yang penting ada. Ia menembus waktu apa adanya dan menapakkan kakinya untuk terus mengenyam pendidikan di tengah persoalan kemiskinan.

Berdiri bulu kudukku ketika mendapatkan kesempatan istimewa berbincang panjang lebar tentang Fildan di masa sekolahnya di SMAN 3 Baubau dengan mantan guru keseniannya, Ibu Munarti di atas langit Baubau hingga mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Rabu 20 April 2017. Ibu Munarti mengetahui banyak tentang Fildan, karena
selain sebagai guru, ia juga tetangga Fildan.

“Dia itu dulu sering kelaparan kalau pulang sekolah,” kata ibu Munarti sambil menggambarkan situasi Fildan yang rebah di atas tumpukan pakaian kotor di pondok rumah memegang perutnya yang keroncongan.

Fildan terlalu pemalu dan selalu menolak ajakan untuk makan. “Saya juga tidak terlalu memaksa karena saya tahu dia mungkin ke rumah bibinya untuk makan,” ketika memerogoki Fildan sedang kelaparan. Ketika itu Munarti baru saja pulang dari sekolah dan lewat di rumah Fildan. “Saya belikan kamu indomi!” “jangan mi bu.” mengenang Fildan.

Ayah dan ibu Fildan sudah berpisah rumah, sehingga urusan rumah dan dapur tidak begitu baik “pergi tanpa sarapan pulang tanpa makan siang”. Fildan sejak kecil hanya kenyang dengan alat-alat musik, bersama paman-pamannya, dan ayah serta pelajaran seruling dari mendiang kakeknya telah memperkaya dirinya. “Di rumahnya itu hanya ada permainan musik saja,” kata ibu Munarti.

Karena tak membayar uang komite, Fildan dikeluarkan dari sekolah, masa depannya terasa hancur lebur. Inilah masa yang paling gelap yang menambah beban hidupnya. Ia tak berdaya, tidak bisa menjelaskan persoalannya ke sekolah karena dia hanyalah manusia yang bisa tersenyum. Ia tertunduk memalingkan wajah dari langit menatap tanah dan bumi, haruskah berhenti bermimpi.

“Dia ini sudah karakternya begitu diaaaam saja kalau kita marahi..!! Paling hanya dia bilang iye iye saja tanpa membantah,” kata ibuguru ini, terdengar sendu.

Fildan harus menerima kenyataan itu dan tegar menjalani hidup yang berat, ia dikeluarkan karena tak mampu membayar komite. Padahal faktor ekonomilah penyebab semuanya, ia tak bisa melengkapi kebutuhan sekolahnya layaknya anak orang-orang berada.

Kepada siapa harus meminta, hanya gitar warisan ayahnya yang bisa ia peluk, bermesraan dalam petikan dawai di tengah keheningan jiwa, merindukan sang kakek pemberi inspirasi, merindukan sang ibu di tengah tekanan hidup, memejamkan mata, bernyanyi dalam getaran dawai, gitar itulah penghiburnya, satu-satunya benda yang bisa memahaminya.

Fildan dalam senandung irama, tentang menerima nasib dan kenyataan dilahirkan dari keluarga miskin, irama dalam syair penderitaan, irama tentang strata sosial paling bawah, sekaligus irama untuk tersenyum di bawah tekanan segalanya, dan irama tentang mimpi yang tidak pernah memberitahunya bahwa bertahanlah, yakinilah, cepat atau lambat kamu
akan besar karena gitarmu.

Sudah takdir dilahirkan sebagai orang susah dan barangkali akan menjadi orang susah seumur hidup, begitu saya membatin mencoba menggali suasana hati Fildan yang hancur ketika itu. Ketika itu ia duduk di bangku kelas 2 SMAN 3 Baubau, tak pernah terlihat lagi batang hidungnya di sana sejak dikeluarkan. Harapan untuk meneyelesaikan sekolah minimal lulus, sirna dan ia harus buang jauh-jauh dari bayangannya. BERSAMBUNG…

Baca Selangkapnya…

Sumber : (baubaupost.com)