Beranda Kampung Sultra Dugaan Jual Beli Proyek Anggota DPRD Konawe

Dugaan Jual Beli Proyek Anggota DPRD Konawe

265
Edi Saputra, pelapor

Kampung Konawe
Unaaha, – Dugaan adanya jual beli proyek pada lingkup Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe mencuat. Hal ini usai salah seorang kontraktor, Edi Saputra melaporkan salah seorang supir anggota DPRD Konawe, bernama Adhy ke pihak kepolisian, Kamis (26/10).

Dimana dalam laporan itu terungkap beberapa fakta, diantaranya adanya jual beli proyek yang terjadi di dalamnya. Edi melaporkan supir anggota dewan dengan dugaan tindak pidana penipuan atas sejumlah uang yang telah disetorkan pada salah satu anggota dewan bernama Al Ma’aruf dari Fraksi Partai PAN guna memuluskan proyek.

Diketahui, Al Ma’aruf diduga telah menjanjikan proyek kepada Edi dengan beberapa persyaratan. Kendati telah dilakukannya namun hingga kini dirinya belum mendapatkan proyek seperti yang dijanjikan. Hal inilah yang mendorong dirinya melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib.

Akibat kejadian itu, Edi mengaku telah mengalami kerugian hingga Rp76.750.000 (Tujuh Ratus Enam Puluh Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Dana ini merupakan total dari jumlah setoran Edi pada Al Ma’aruf untuk sejumlah proyek seperti yang dijanjikan padanya.

Dalam surat aduannya, Edi menceritakan kronologisnya. Dimana awalnya ia mengenal Al Ma’aruf melalui kerabatnya. Dari pertemuan itulah Edi mendapatkan sejumlah tawaran proyek untuk dikerjakan. Dimulai dari janji proyek pelurusan sungai.

Dengan itu, dirinya kemudian menyetorkan uang sebesar Rp10 juta kepada supir yang dilaporkan tadi, Adhy dengan iming-iming proyek bakal berjalan. Namun kemudian proyek itu batal berjalan dengan alasan belum ada gambar.

Lanjut Edy tidak lama kemudian Adhy menelpon dan mengatakan ada proyek lagi untuk menggantikan proyek yang batal sebelumnya. Kali ini adalah proyek pembuatan pagar Puskesmas Kecamatan Amonggedo untuk meloloskan proyek tersebut Adhy kembali meminta sejumlah uang sebesar Rp22 juta yang kemudian disanggupi olehnya.

“Setelah saya memberikan uang kepada Adhy saya langsung meninjau lokasi, tetapi proyek tersebut tidak jadi, anehnya saya melihat papan proyek itu sudah ada yang punya. Kemudian saya menemui Al Ma’aruf untuk menanyakan proyek yang dijanjikan. Setelah itu saya kembali dijanjikan nanti tahun 2015. Alasanya kalau karena tahun ini habis Pilkada habis menyumbang itu yang diprioritaskan,” kata Edi.

Jelang tahun 2015, dirinya kembali mendapat telpon dari Adhy yang menyuruhnya untuk bertemu Al Ma’aruf untuk menyelesaikan kekurangan Puskesmas. Pada saat pertemuannya bersama Al Maaruf ia kembali dijanjikan dan dipastikan akan mendapatkan proyek dengan catatan dirinya harus menambah uang sebesar Rp22.750.000 yang kemudian ia kembali menyanggupinya.

“Setelah saya kasih sisa uang saya terus menunggu dan selalu menelpon Adhy. Adhy hanya bilang tunggumi-tunggumi,” kata Edi menerangkan.

Selain nama Al Maaruf, Edi juga menyebut nama lain, yakni Fauzi yang diduga ikut terlibat. Hal ini berdasarkan hasil komunikasi yang dilakukan Adhy kepadanya untuk kembali mendapatkan proyek pada Dinas Kesehatan.

“Adhy menelpon pada saya dan meminta agar kembali mentransfer uang sebesar Rp10 juta kepada Fauzi supaya segera dibuatkan nota untuk diberikan sama panitia lelang di Dinas Kesehatan.” Kata Edi mengungkapkan.

“Hingga tahun ini saya belum sama sekali mendapatkan proyek seperti yang dijanjikan oleh Al Maaruf.” ungkap EdiĀ (KS/Red)