Beranda Lainnya Opini Jalan Latoma : Dikerjakan atau Dikerjain?

Jalan Latoma : Dikerjakan atau Dikerjain?

253
Muh. Syainul Arifin Tora
Muh. Syainul Arifin Tora

Penulis : Muh. Syainul Arifin Tora, ST
Dewan Penasehat Organisasi Ikatan Mahasiswa Pemuda Latoma
(DPO IMAPALA) Konawe

Kecamatan Latoma Merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Konawe Propinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang sampai sekarang ini masih terjajah dengan persoalan trasportasi yang tidak pernah terselesaikan. Transportasi menjadi jantung utama dari perputaran ekonomi dan kelangsungan hidup masyarakat namun hal tersebut menjadi penghambat utama sehingga membuat wilayah Latoma jauh tertinggal dibanding wilayah lain.
Kondisi jalan rusak setiap tahun selalu didengungkan masyarakat untuk mengharap perhatian para pimpinan legislatif dan Eksekutif. Namun dengungan itu terabaikan sesekali diberi janji namun seolah janji tersebut tak ada habisnya.

Janji perbaikan hampir setiap “momen” diutarakan oleh pemerintah daerah namun semua tidak pernah terselaksanakan, masyarakat selama ini selalu saja bergelut lumpur di musim hujan, debu di musim panas, jembatan rusak dan kubangan-kubangan besar di hampir semua sudut jalan yang banyak berakhir pada kecelakaan. Seolah penjajahan di negeri sendiri tidak pernah berakhir danpenderitaan masyarakat Latoma terus dipupuk oleh kaum-kaum kapitalis pemimpin negeri ini.

Katanya sudah di kerjakan tapi kok jalannya juga masih rusak? Mungkin kita dikerjain!!!. Beberapa waktu lalu terdapat  informasi tentang perbaikan yang dilakukan pemerintah tapi ternyata hanya tempel-tempel pasir saja, hal tersebut sangat tidak efektif, buktinya hujan rintik-rintik sedikit tapi kondisi jalan sudah memperihatinkan. Hal tersebut terus terjadi dari tahun ke tahun dan dari masa ke masa sejak dipimpin oleh Bupati Konawe zaman Rasak Porosi, Lukman Abunawas dan sekarang Kery Saiful Konggoasa tapi tidak juga merubah keadaan sesuai yang diharapkan masyarakat, begitupun anggota DPRD di wilayah pemilihan Latoma, gagal menyuarakan perbaikan jalan didaerahnya. Nanti ada lagi maunya mereka baru ala-ala berjanji mau perbaiki

Lagian perbaikan yang katanya dilakukan hanya disekitaran Ambekaeri tidak sampe Latoma itupun tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang pengerasan jalan sehingga sangat mudah rusak. Perlu diketahui, sebagian masyarakat Latoma memilih jalur lain dengan menyebrang ke Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) untuk menghindari jalan rusak karena disana jalannya bagus, namun hal tersebut masyarakat dibebankan biaya pincara/perahu 1 Motor sekitar Rp.10 – 20 ribu dan 1 mobil sekitaran Rp. 30 – 40 ribu untuk sekali penyebrangan, dana tersebut masuk di PAD Kabupaten Koltim dengan kata lain masyarakat Konawe di Latoma selalu menyumbang PAD Koltim.

Hal tersebut terpaksa dilakukan masyarakat karena menghindari jalan rusak karya pemerintah Kabupaten Konawe dari masa ke masa. Kalau memang sudah tidak mau perbaiki serahkan saja sekalian Latoma di Kabupaten Kolaka Timur. Dalam kondisi seperti ini haruslah pemerintah memberikan perhatian yang serius dalam memberikan kenyamanan transportasi masyarakat Latoma karena perekonomian tidak akan pernah baik, pelayanan publik tidak akan baik, harga sembako akan terus mahal dan alat transportasi masyarakat selalu akan rusak semua karena akses jalan masyarakat menuju Latoma yang sangat sulit dilalui.

Jika tidak memiliki keseriusan dalam memperbaiki jalur transportasi maka Pemda Konawe menyerahkan saja Latoma ke pemda Kolaka Timur, Insya Allah mereka akan berkenan memperlakukan wilayah tersebut sama dengan wilayah lain dalam pembangunan jalan. Sudah-sudah mi masyarakat dikerjain, kerjakan mi saja.