Beranda Lainnya Lipsus Menelisik Keindahan Air Terjun Tumburano Konawe Kepulauan

Menelisik Keindahan Air Terjun Tumburano Konawe Kepulauan

114
Air Terjun Tumburano Konawe Kepulauan

Penulis. : Muh.Fadhil Attamini

Memiliki Cerita Rakyat Kisah Cinta Bak Romeo and Juliet

Minggu pagi yang rencananya kami dari Komunitas Jurnalis Jalan Jalan (J3). Kota Kendari. Sudah siap untuk menyusuri keindahan dari Air Terjun Tumburano, yang berada di Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Namun sayang nya kami harus berangkat agak siang, sebab pagi itu hujan mengguyur tanah Wawonii. Akibatnya kami harus bersabar sedikit untuk menunggu redahnya hujan, walaupun begitu semangat kami tak padam untuk melihat lebih dekat, keindahan ciptaan yang maha kuasa yang ia titip kan di tanah Wawonii.

Menurut cerita masyarakat sekitar, air terjun tumburano memiliki ketinggian 80 meter, dan yang membuat kami semakin tertarik untuk mengunjunginya, sebab konon katanya di air terjun tersebut memiliki cerita cinta tak direstui, yang berakhir pada bunuh diri dua sejoli yang sedang memadu kasih di air terjun tersebut.

Mendengar cerita itu, kami sedikit tergelitik mengingat kisah tersebut hampir sama dengan kisah cinta Romeo and Juliet yang melegenda. Rasa penasaran kami semakin menggebu untuk melihat seperti apa sih keindahan dari air terjun Tumburano, walaupun letaknya cukup jauh di dalam hutan lebat.

Jam menunjukan pukul sembilan pagi, matahari berlahan menampakkan sinarnya, mendung yang tadinya menyelimuti Wawonii perlahan terang dan menyinari Konawe Kepulauan. Tim Jurnalis Jalan Jalan siap memacu adrenalin di ganasnya jalan Wawonii yang hampir 80 persen belum teraspal.

Kurang lebih satu jam perjalanan dari Kota Langara menuju Kecamatan Wawonii Utara, sebab dilokasi tersebutlah tersimpan setitik surga yang Allah sematkan di Bumi Konawe Kepulauan tepatnya di Desa Tombaone Utama, Kelurahan Lansilowo, Kecamatan Wawonii Utara.

Setibanya kami di Kecamatan Wawonii Utara, kendaraan yang kami gunakan sebelumnya harus kami titipkan kepada warga sekitar, sebab untuk menuju Air terjun Tumburano kita harus berjalan kaki menyusuri hutan dengan berjalan kaki sepanjang kurang lebih delapan kilo meter jauhnya.

Waktu berlalu, matahari kian meninggi saat itu jarum jam tangan kami sudah menunjukan pukul 10, perjalan panjang kami menyusuri hutan di mulai. Tim Jurnalis Jalan Jalan berjumlah enam orang, ditambah dengan rekan seprovesi kami masyarakat sekitar mau menemani perjalan kami menyusuri lebatnya hutan di tanah Wawonii.

Langkah demi langkah kami susuri jalan yang sekeliling kami hanya ada pohon dan rerumputan, ditengah perjalan, kami sempat bertemu dengan masyarakat sekitar yang sedang mengumpulkan kelapa di Kebun karena pada umumnya masyarakat Wawonii memiliki pekerjaan sebagai pengrajin kopra.

Petani kelapa tersebut sempat menanyakan tujuan kami melewati pekarangan perkebunannya,”Kalian mau kemana ramai-ramai?,”tanya petani tersebut menggunakan bahasa daerah Wawonii.

Salah seorang teman kami yang faham dengan bahasa si petani, sontak menjawab jika kami akan menuju Air Terjun Tumburano, ia pun langsung menawarkan kami untuk mencicipi buah kelapa miliknya yang baru saja di turunkan dari pohonnya.

“Perjanannya masih jauh, minum mi dulu kelapa nanti saya suruh anak-anak ku panjatkan kalian, karena perjalanan itu masih jauh,”pintanya.

Sekitar 15 menit perjalanan kami tertunda sembari menyantap buah kelapa yang ditawarkan oleh petani tersebut. Saat kami akan beranjak pergi kami memberikan beberapa rupiah uang kepada anak-anak petani tersebut, karena ia sudah berbaik hati memanjatkan kami kelapa.

Namun yang tak kami sangka, sang ayah malah menolak untuk kami berikan uang kepada anaknya,”Hei apa yang kalian berikan, tidak usah sudah kalian jalan saja,”pungkasnya dengan dialegnya. Namun kami tetap memberikan sebagai rasa terima kasih kami kepada anak-anaknya.

Perjalanan kami lanjutkan setelah rehat sejenak dengan buah-buah kelapa yang masih segar, memang perjalanan ini cukup jauh, kita mesti menyebrangi 4 kali sungai. Namun medan yang kami temui cukup bagus, hanya perkebunan masyarakatlah yang banyak kami lalui. Sebab tak ada gunung yang harus kami daki untuk bisa sampai ke lokasi Air terjun.

Sungai terakhir sudah kami lewati, pertanda perjalanan kami sudah mendekati air terjun Tumburano. Matahari sudah tepat berada di atas kepala kami, saat menoleh ke arloji jarum jam sudah menunjukan pukul 12 siang. Tak ada panas yang kami rasakan, namun suara hawa udara sengar dan suara gemercik air dari jauh sudah mulai kami dengarkan.

Dihadapan kami sudah ada gunung menjulang tinggi disertai pepohonan besar, langkah kami terhenti di semak-semak yang tingginya sampai hanya kepala kami yang terlihat. Warga yang mengantarkan kami langsung menunjuk kan kami kabut dari air terjun yang berada di balik pepohonan besar tersebut.

“Coba kalian lihat itu embun dari air terjun, kalian sudah bisa bayangkan bagaimana tinggi dan derasnya air terjun Tumburano,”pungkasnya sembari menunjukan jarinya kearah balik pepohonan.

Sontak langkah kami semakin cepat, rasa tak sabar ingin melihat keindahan Air Terjun Tumburano sudah tak tertahankan lagi. Suara derasnya air semakin jelas ditelinga kami. Rasa lelah dan kaki yang sudah hampir tak mampu melangkah terbayarkan. Keindahan alamnya, dingin air, dan derasnya air terjun Tumburano mampu menghilangkan rasa lelah kami.

Momen mengabadikan keindahan Air Terjun Tumburano tak terelakan lagi, hampir seluruh tim Jurnalis Jalan Jalan, langsung mengeluarkan Handphone masing-masing dan mengambil anggel gambar semenarik mungkin. Air Terjun Tumburano memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama tingginya sekitar lima meter yang kedua sekitar sepuluh meter dan tingkatan ketiga memiliki ketinggian delapan puluh meter.

Pada tingkatan ketigalah paling banyak di kunjungi pengunjung, sebab ditempat air tersebut jatuh memiliki kolam yang cukup dalam, namun kami pun belum tau berapa kedalaman tempat kolam di tingkat ketiga tersebut.

Matahari semakin meninggi, berlahan matahari tepat berhadapan dengan Air Terjun embun yang dihasilkan dari derasnya jatuhan air dari atas, membuat pelangi terbentuk dengan indah tepat berada di kolam permandian ketiga, sayapun duduk di atas batu yang berhadapan langsung dengan air terjun.

Duduk diatas batu sembari menatapan hempasan air yang jatuh dari ketinggian ditambah dengan warna warni pelangi di hadapan mata, mengingatkan saya kepada cerita rakyat yang beredar luas tentang sepasang kekasih yang mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari ketinggian air terjun.

Namun terlepas cerita dari mereka mengakhiri hidup akibat cinta yang tak direstui. Saya mengingat tentang kecantikan rupawan seorang wanita cantik keturunan bangsawan yakni Wulangkinokooti. Yang ada dalam cerita rakyat tersebut.
Dikisahkan, kecantikan Wulangkinokooti. Digambarkan tak ada yang mengalahkan pada zamannya. Saking putihnya, makanan dan minuman yang masuk ke kerongkongannya nampak jelas. Rambut panjang miliknya setebal jeruk besar jika digulung.

Namun sayang hubungan percintaannya saat itu tak semulus jalan tol. Sebab ia mengakiri hidupnya dengan terjun dari ketinggian air terjun ini, akibat tak mendapat restu dengan orang tuanya saat ia memadu kasih dengan seorang lelaki bernama Duru Balewula.

Alasan tak direstui hanya klasik yaitu perbedaan kasta, yang dimana saat itu Duru Balewul hanya berasal dari kalangan rakyat biasa yang memiliki pekerjaan kesehariannya sebagai tukang jerat ayam atau dalam bahasa Wawoniinya yaitu Kumate.

““Duru Balewula ini pekerjaannya hanya pasang jerat ayam hutan saja (Kumate) . Sedangkan Wulangkinokooti, berdarah bangsawan,”cerita Juru rawat air terjun Tumburano, Rustam (77).

Akibat kejadian tersebut, Wulangkinikooti, tak memiliki keturunan karena mereka mengakhiri hidupnya sebelum terjalin hubungan ikatan yang terjalin dalam mahligai rumah tangga.(**)