Beranda Lainnya Opini Menjadi Manusia Dalam Politik

Menjadi Manusia Dalam Politik

223
Ramdhan Riski Pratama
Ramdhan Riski Pratama

Penulis Oleh :
Ramdhan Riski Pratama
(Ketua Umum PC PMII Konawe Masa Khitmad 2015-2016)

Politik memecah bela persaudaraan masyarakat. Begitulah kira kira gambaran demokrasi kita jelang pilkada serentak. Hampir setiap dinding dinding status media sosial khusunya Facebook berisikan tulisan tulisan penuh hujatan, hinaan, cacian, dan bahkan sampai pada mengintimidasi hak pilih seseorang. Hal ini menandakan bahwa demokrasi telah bergeser menjadi demoraliasi. Artinya jelang pesta demokrasi kita semakin kehilangan moralitas dalam memaknai perbedaan-perbedaan pilihan politik khususnya di Konawe. Akun akun palsu di dunia maya semakin banyak dan tujuannya satu yaitu menyerang lawan -lawan poltik Dengan cara melakukan pembusukan dan penggembosan. Mulai dari tema meong-meong, pogang – pogang tanah, Suknip PNS, wartawan timses, pengadaan Babi dan Puncaknya adalah pengeditan foto Bupati Konawe yang dimirip-miripkan hewan Babi. Kita semua pasti tidak sepakat bahkan marah jika kita di perlakukan demikian apalagi ini adalah seorang bupati. Meskipun beliau bukan figur jagoan kita tapi paling tidak beliau adalah simbol kepemimpinan kita yang mesti kita hargai bersama. Yaaaaa walupun Sampai detik ini tidak diketahui motifnya apa dan pelakunya siapa. Tentu Masyarakat sah-sah saja berspekulasi kalau kasus ini adalah pembusukan oleh timses lawan untuk menghina beliau atau bisa pula ini hanya mainan orang dalam timses beliau sendiri agar kesannya terDzolimi dengan tujuan untuk meningkatkan elektabilitas. Apapun spekulasi kita yang jelas Ini sangat tidak BERADAB, menandakan krisis moral kita sudah parah. Dan semoga pelakunya cepat diproses secara hukum dan menjadi pembelajaran moral buat kita semua.

Hal ini tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah masalah moral lainnya yang dapat menggangu stabilitas keamanan. pasalnya, apabila masing masing pendukung calon, saling ejek, saling hina,saling serang dan dengan mudah terpancing dalam menanggapi setiap masalah yang muncul tanpa ditimbang terlebih dulu ini berpotensi Chaos. Hal lainnya juga, kesan saling memblok wilayah dimana antara satu wilayah dengan wilayah lain dibentur benturkan dengan dalil daerah ini basisnya si A dan di daerah ini basisnya si B. Tidak sedikit juga kita temukan persaudaraan maupun pertemanan terpecah hanya gara gara berbeda pilihan. Kekeluargaan yang terbina selama bertahun-tahun harus terputus oleh momen 5 tahunan sekali. Kalau kondisinya sudah seperti itu Yang rugi adalah kita semua. Kita lupa bahwa para calon masih saling bersilahturahim bahkan minum kopi bersama sambil berjabat tangan sekalipun kesannya saling serang tapi itu hanya bagian dari siasat dan strategi untuk memenangkan pertarungan saja, tidak lebih dari itu.Toh pesan yang disampaikan oleh para calon adalah pesan kedamaian dan saling menghargai perbedaan politik. Menjadi aneh jika kapasitas kita hanya sebagai pendukung ataupun relawan harus merusak citra kemanusiaan kita dengan cara – cara tak terpuji apalagi sampai mengorbankan pertemanan dan persaudaraan hanya karena berebeda pilihan. Saling intip dan saling lapor sana lapor sini, seakan tidak penting lagi makna persaudaraan. Sangat tidak manusiawi karena jabatan kita saling merusak satu sama lain. Sifat ini persis anjing, harus menjilat ke tuannya dulu demi sebuah tulang. Lagi lagi ini sangat tidak manusiawi.

Jangan ada sikap fanatisme berlebihan, karena politik itu dinamis. Tak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan. Kita harus menempatkan politik kemanusiaan lebih tinggi dari politik kekuasaan. Sebab politik kekuasaan ini soal menang dan kalah. Jadi wajar kalau sampai tidak memperdulikan caranya halal atau haram. Makanya jangan heran kalau sekarang semua pada mendadak taat beribadah, turun kemasyarat, mendadak baik, mendadak pro rakyat dan serba mendadak mendak lainnya. Tentu kita semua tahu fenomena ini pasti karena politik ingin simpati masyarakat. Matian – matian merebut jabatan padahal lupa kalau jabatan tidak dibawah mati. Lain hal dengan politik kemanusiaan. Politik kemanusiaan ini soal pengabdian dan perjuangan. Kegelisahan dan keresahan akan menyelimuti dadanya ketika melihat penindasan terjadi khususnya terhadap masyarakat kecil. Sehingga akan lebih konsen untuk berlaku adil dan mensejahterakan rakyat. Tak perlu pamer – pamer ibadah, tak perlu repot repot turun kemasyarat. Karena itu sudah menjadi aktifitas kesehariannya. Dengan sendirinya masyarakat juga yang akan membumikan segala kebaikannya tanpa harus ada yang dimanipulasi.

Saya sangat sepakat dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pilkada ini mestinya kita jadikan sebagai ruang tarung program. Dan program itulah yang mestinya di edukasikan dibantu oleh timsesnya masing masing agar masyarakat bisa mengetahui Visi misi para calon. Dan selebihnya biarlah masyarakat yang menilai dan menentukan arah jihad demokrasinya sendiri. Karena masyarakat tentu sudah memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap pembangunan daerahnya. Masyarakat Tidak mungkin mau ditipu oleh janji politik yang tidak bersandar pada rasionalitas dan tidak mungkin pula mau dibeli harga dirinya dengan uang ratusan ribu apalagi hanya untuk momen lima tahunan. Siapapun Kita, harus berjiwa besar untuk menerima hasil demokrasi itu. siapapun nanti yang meraih suara terbanyak maka itulah pemimpin kita. Karena politik adalah Ijtihad Rakyat dalam menentukan Pemimpinnya. Ingat!!! Politik adalah Ijtihad Rakyat dalam menentukan Pemimpinya. Soal nanti pemimpin kita mau bobrok tak bermoral atau mau baik berbudi luhur ya itulah cerminan kita sebagai rakyat yang punya amanah untuk menentukan pilihan yang sebaik-baiknya pilihan. Jadi sangat rugi jika kita ikut – ikutan saling menjatuhkan dan saling menyerang karena bukan itu tugas kita dalam demokrasi. Tugas kita menempatkan Politik kemanusiaan lebih tinggi ketimbang politik kekuasaaan. Kita harus tetap menjadi manusia bermoral sebab Hanya dengan itulah kita akan melahirkan pemimpin yang berkemanusiaan artinya amanah.
“ Memuliakan manusia, berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan penciptanya ” pesan KH.Abdurrahman Wahid (Gus dur) ini menjadi penting untuk kita renungkan kembali. (**)