Beranda Kampung Sultra Sengketa Kepemilikan Lahan, TPM Diberi Teguran Tegas Oleh DPRD Konawe

Sengketa Kepemilikan Lahan, TPM Diberi Teguran Tegas Oleh DPRD Konawe

79

Kampung Konawe
Unaaha, – Sengketa soal kepemilikan lahan warga Anggotoa di Rawa Aepe dengan perusahaan sawit, PT Tani Prima Makmur (TPM), Selasa (29/8) akhirnya ditengahi oleh DPRD Konawe di bawah Komisi II.

Dalam hearing yang dijembatani Lembaga Aliansi Suara Rakyat (Alsurat), mengungkapkan sejumlah fakta. Diantaranya soal kepemilikan lahan yang dikelola TPM yang ternyata perjanjian kontraknya bukan melalui pemilik lahan asli, namun oleh beberapa nama yang notabene merupakan oknum-oknum pejabat.

Ironisnya, perwakilan Alsurat, Ilham Saputra membeberkan, konpenisasi pengolahan lahan tidak diterima oleh warga sebagai pemilik lahan asli namun oleh oknum-oknum yang antara lain adalah Camat Wawotobi yang katanya punya kepemilikan lahan 10 Ha dan Mantan Kades Anggotoa yang punya 6 Ha.

“Tentu menjadi pertanyaan kami adalah, mereka ini bukan warga di sama, tapi punya kepemilikan lahan yang luas. Mirisnya, warga yang sudah turun temurun tinggal di area tersebut tidak terdata dan hanya jadi penonton saat pembagian kompensasi,” jelasnya.

Melalui hal itu, PT TPM sendiri mengaku akan kembali melakukan pembenahan, termaksud akan memberikan kompensasi bagi warga yang betul-betul terbukti sebagai pemilik lahan. Meski demikian, TPM mengaku jika prosedur yang digunaka dalam penentuan kepemilikan lahan telah melalui sejumlah tahapan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi II DPRD Konawe, Ardin meminta agar daftar nama-nama penerima kompensasi diserahkan ke Komisi II DPRD untuk dipelajari. Ia juga menyarankan, agar masalah tersebut kembali dibicarakan secara kekeluargaan antar warga.

Ardin sendiri menitiktekankan, agar warga yang mengklaim punya lahan di area yang disengketakan itu juga dapat kompensasi dari perusahaan. Tidak hanya jadi penonton di daerahnya sendiri.

“Kalau masalah ini tidak selesai, DPRD bisa mengusulkan kepada Pemda Konawe agar izin pengelolaan perkebukan kelapa sawit di sana (Rawa Aepe) dihentikan,” katanya. (KS/Red)