Beranda Ragam 2019, Umur Muda Dominasi Kasus Perceraian di Tiga Daerah

2019, Umur Muda Dominasi Kasus Perceraian di Tiga Daerah

137
Kasubag IT dan Teknologi Informasi, Pengadilan Agama Unaaha, Yudi Wijaya
Kasubag IT dan Teknologi Informasi, Pengadilan Agama Unaaha, Yudi Wijaya

UNAAHA, – Tahun 2019, gugatan perceraian di wilayah Hukum Pengadilan Agama (PA) Unaaha didominasi pasangan usia produktif. Tercatat, hingga Juli 2019, sudah 358 kasus gugatan yang sedang ditangani pihak PA Unaaha.

Data ini merujuk dari Januari hingga Juli 2019 yang meliputi tiga daerah wilayah hukum PA Unaaha meliputi Kabupaten Konawe, Konawe Utara (Konut) dan Konawe Kepulauan.

“Kasus gugatan perceraian dari tahun 2016 sampai 2019 ini didominasi pasangan yang masih usia produktif, dibawa umur 30 tahun bahkan ada yang di bawah umur,” jelas Kasubag IT dan Teknologi Informasi, PA Unaaha, Yudi Wijaya, Jumat (2/8/2019).

Kata Yudi, penyebab terjadinya gugatan perceraian itu karena persoalan ekonomi, disusul kasus perselingkuhan hingga terjadinya perselisihan antara suami istri yang berakhir di meja hijau.

“Yang paling banyak itu soal ekonomi, kemudian kasus perselingkuhan, dimana kasus perselingkuhan ini merembet ke perselisihan antara pasangan suami istri hingga menyebabkan perceraian,” ujarnya.

Soal proses perceraian sendiri, kata Yudi menjelaskan, perkara gugatan cerai yang masuk tidak langsung diproses oleh pihak PN Agama. Sebelum PN memutuskan perkara melalui sidang, pemohon harus melalui beberapa tahapan yakni mendaftarkan diri dengan memasukkan beberapa gugatan perceraian.

“Ya, kalau proses penyelesaiannya kami ada standar oprasional (SOP) yakni pihak pemohon mendaftarkan diri dulu, termasuk menyiapkan biaya perkara yang ditanggung oleh pihak pemohon,”jelasnya.

Meski begitu, pihak PN masih berupaya mendamaikan kedua pasangan yang terlibat perselisihan melalui jalur mediasi. Meski hanya sedikit yang berhasil rujuk untuk kembali membina rumah tangga.

“Kita selalu utamakan mediasi, siapa tau masih ada peluang untuk rukun,” ucapnya.

Yudi memaparkan, data dari PN Agama tercatat untuk dari tahun 2016 sekitar 816 perkara, tahun 2017 menurun menjadi 572, dan tahun 2018, 472 perkara.

Meski kasus perceraian dari tahun ketahun bervariasi, tapi secara umum itu ada peningkatan karena tahun 2016 itu yang paling banyak isbat nikah atau penetapan oleh pengadilan yang belum memiliki buku nikah dan untuk isbat nikah sendiri yang terbanyak datang dari Kabupaten Konut. (Red)