Beranda Lainnya Lipsus DESA RONGI, DESA PETANI DI TENGAH BUDAYA BAHARI

DESA RONGI, DESA PETANI DI TENGAH BUDAYA BAHARI

107
Bukit Lamando Desa Rongi, Kecamatan Sampolawa, Buton/Sumber Foto : Youtube Erwin Erwing.
Bukit Lamando Desa Rongi, Kecamatan Sampolawa, Buton/Sumber Foto : Screenshot Youtube Erwin Erwing.

Oleh Fakhrisya Zalili Sailan

Serinai yang menari di atas bukit, rumah-rumah panggung berbaris rapi, dan kokohnya benteng tua akan langsung menyambut traveller ketika sampai di Desa Rongi, yang berada di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Berada di atas ketinggian 1000 kaki dan tepi hutan lindung Lambusango, membuat suasana desa lebih sejuk dibandingkan daerah lain di Pulau Buton yang cenderung gersang dan kering khas angin laut. Kondisi geografis yang demikian menjadikan orang Rongi menggantungkan hidupnya pada sumber daya pertanian dan perkebunan, mengolah tanah kapur pulau Buton menjadi subur. Ya, Rongi adalah masyarakat petani di tengah hegemoni keagungan budaya bahari masyarakat Buton.

Panggung tempat serinai menari itu diberi nama Bukit Lamando. Hijau dan memiliki bentuk yang indah mengingatkan traveller pada bukit teletubies, tentu sangat memanjakan bagi anda yang memiliki hobi photography dan tentunya sangat instagramable. Sewindu silam, kita masih dapat menemukan si hewan pemalu “Anoa” mengintip di balik rindang pepohonan, namun sayangnya semakin menipisnya populasi serta kegiatan pembangunan yang semakin merambah hutan, membuatnya lebih jauh bersembunyi di dalam hutan lindung Lambusango. Sementara berhadapan dengan anggunnya Bukit Lamando, terdapat benteng tua Rongi masih berdiri perkasa di usianya yang hampir mencapai seribu tahun. Keberadaan benteng ini mempunyai keunikan sendiri, sebab keberadaannya merupakan salah satu benteng yang mengelilingi Benteng Kesultanan Buton di Baubau, yang saat itu merupakan Ibu Kota Kesultanan.

Tidak hanya pemdandangan alam, desa Rongi juga menawarkan budaya kearifan lokal yang kental dengan masyarakat petani, traveller dapat menyaksikan pesta adat musim panen (sampua galampa), yang merupakan acara adat terbesar orang Rongi, biasanya diadakan seminggu setelah lebaran Idulfitri, juga terdapat satu benda pusaka yang bernilai sakral bagi orang Rongi maupun Kesultanan Buton, yakni merium naga, sebuah meriam yang diberikan Sultan Buton melalui utusannya pada Labukuturende (nenek moyang orang Rongi) pada sekitar abad ke-13, sebagai simbol bergabungnya Rongi pada Kesultanan Buton.

Untuk menuju desa Rongi dapat ditempuh melalui dua jalur, dari kota Baubau menyusuri sisi selatan Pulau Buton, traveller akan disuguhi pemandangan indah garis pantai dan birunya laut, namun medan yang berat, cukup melelahkan dan memakan waktu lebih lama, sekitar dua sampai dengan tiga jam dari Kota Baubau. Jalur kedua dapat ditempu menulusuri jalan kabupaten yang membelah Pulau Buton, dan menyisir tepiah hutan Lambusango. Jalur ini cukup baik, dan dapat ditempuh dengan waktu yang cukup singkat yakni 1 (satu) jam. Namun tidak perlu khawatir akan kelelahan perjalanan, sebab sebuah sumber mata air jernih dan segar di dalam hutan adat sudah siap menyambut. **