Beranda Kampung Politik Dituding TERBAIK Menang Curang di Pilkada Muna, AMF : Umar Bonte yang...

Dituding TERBAIK Menang Curang di Pilkada Muna, AMF : Umar Bonte yang Doakan RAPI Kalah

3853
Politisi Partai Golkar Sulawesi Tenggara (Sultra), Ahmad Mubarak Feni (AMF) akrab dipanggil Ara. (Foto:ist)
Politisi Partai Golkar Sulawesi Tenggara (Sultra), Ahmad Mubarak Feni (AMF) akrab dipanggil Ara. (Foto:ist)

MUNA, – Pilkada serentak tahun 2020 memasuki tahapan gugatan atas hasil rakapitulasi perolehan suara berdasarkan hasil pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) masing-masing daerah. Di Sultra tercatat empat kabupaten yang mendaftarkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Kabupaten Muna, Konawe Kepulauan, Wakatobi, dan Kabupaten Konawe Selatan.

Untuk Kabupaten Muna, gugatan hasil pemilihan dilayangkan pasangan calon bupati dan wakil bupati Rajiun Tumada dan La Pili dengan akronim RAPI atas pesaingnya Rusman Emba dan Bachrun Labuta dengan akronim TERBAIK.

Gugatan dilayangkan akibat adanya dugaan kecurangan perolehan suara pasangan TERBAIK seperti disampaikan politisi sekaligus Ketua DPW Partai Berkarya Sultra, Umar Bonte (UB) melalui pernyataannya di media massa. Menurutnya pasangan TERBAIK telah berbuat curang dengan cara mengintimidasi dan penggelembungan suara.

Atas pernyataanya itu, kader Partai Golkar pengusung pasangan TERBAIK, Ahmad Mubarak Feni (AMF) berkomentar, pernyataan Umar Bonte hanyalah wacana sesat yang bertujuan untuk menggiring opini dan mencuri perhatian masyarakat Muna dalam proses gugatan pasangan RAPI yang telah terdaftar di Mahkamah Konstitusi.

Mantan Ketua Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Konawe periode 2010 ini juga menjelaskan bahwa proses pendaftaran gugatan tersebut memang menjadi hak konstitusi pasangan calon dimanapun, namun terkait kebenaran atas materi gugatan harus terlebih dahulu dapat memenuhi unsur agar dinyatakan memenuhi syarat dan dikabulkan oleh mahkamah konstitusi.

“Jadi bukan berarti terdaftar di MK lantas kita mengartikan materi gugatannya dikabulkan oleh MK, dan Justru wacana Umar Bonte lah yang menggiring paradigma masyaraka Muna terjerumus pada Zonder Konflik,” ucap pria yang akrab dipanggir Ara itu, Minggu (20/12/2020).

Ara menilai, tudingan Umar Bonte pun dinilai tidak mendasar dan terkesan memaksakan seolah memastikan segala tudingan kecurangan dan intimidasi dengan cara kekerasan benar dilakukan oleh pasangan calon TERBAIK.

Direktur Eksekutif Badan Saksi Daerah Partai Golkar Kabupaten Konawe ini pun menjelaskan bahwa dirinya ditemani 30 kader Angkatan Muda Partai Golkar Sultra yang diturunkan pada H-100 pelaksanaan Pilkada Muna telah menemukan beberapa fakta lapangan bahwa menurutnya insiden kekerasan justru kerap dialami oleh pendukung pasangan TERBAIK.

Kejadian kekerasan pun sudah diketahui masyarakat luas karena viral di media sosial sehingga tidak perlu lagi dijelaskan ke publik terkait hal itu dan tentunya publik sudah mengetahui siapa pelaku kekerasan yang sebenarnya.

Sehingga, menurut Ara tidak bisa disalahkan jika ada yang mengartikan bahwa wacana anti menang karena kecurangan dan dzalim sebagai bentuk doa Umar Bonte terhadap dukungannya sendiri.

Ara berpendapat, prinsip kebenaran ialah ketersesuaian antar ide dan realitas, maka tudingan Umar Bonte dianggap memutar balik fakta. Ia pun menilai pernyataan Umar Bonte soal kecurangan fatal bagi dirinya sendiri dan berdasarkan indikator itu bahwa Umar Bonte  bukan lah politisi yang baik dalam menciptakan kondusifitas daerah.

Serta tudingannya bisa menyerang balik dirinya dan juga menyerang seluruh tim pemenangan pasangan RAPI dan dapat mengantarkan kondisi kebatinan seluruh pendukung pasangan RAPI ke jurang kekalahan yang lebih dalam lagi ketika Mahkamah Konstitusi menganggap bukti-bukti yang dimiliki tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam peraturan perundangan yang berlaku.

Lanjut Ara, tekait isu moral yang disandingkan pada tudingan kecurangan serta dzalim, ia justru menganggap kebohongan itu sering disuguhkan oleh kubu Pasangan RAPI itu sendiri, misalnya saat RAPI klaim unggul diangka 71,23% sama seperti dilakukan oleh 2 lembaga survei yaitu BSI dan FIXPOOL INDONESIA saat ke dua nya menggelar rilis hasil survei beberapa waktu lalu.

Saat itu, FIXPOL Indonesia di salah satu hotel di Kendari, melaui Direktur Eksekutif Mohamad Anas RA menyatakan bahwa sebanyak 61,2 persen Masyarakat Kabupaten Muna tidak lagi menginginkan Rusman Emba memimpin kembali dan hanya 38,8% saja yang masih menginginkan.

“Sama dengan survei yang dilakukan BSI yang mengatakan pasangan TERBAIK hanya memiliki elektabilitas 28% saja, namun Fakta nya Pasangan Terbaik Unggul di angka 53,4 % suara jika disandingkan dengan hasil pleno rekapitulasi perolehan suara oleh KPUD Muna beberapa saat lalu,” ujar Ara.

Sementara, lanjut Ara, hasil survei internal partai Golkar yang dibahas dalam rapat kordinasi Nasional Partai Golkar menyatakan pasangan TERBAIK berada di angka 56% dan memiliki potensial down diangka 53%.

“Alhamdulillah fakta mengatakan bahwa Survei internal Golkar Sultra Lebih Kredibel,” ujarnya lagi.

Ara kemudian menyimpulkan, jika masyarakat Muna tidak percaya lagi dengan opini yang lahir dari kubu RAPI pasca pilkada dan ketidak percayaan itu lahir berdasarkan indikator beberapa opini yang diungkap tidak sesuai fakta.

Ara pun berpesan agar Umar Bonte bersiap terasingkan oleh kepercayaan publik pada momentum politik kedepan. Ia mengingatkan juga jika pernyataan Umar Bonte mengandung unsur delik pidana.

“Terlalu kecil untuk ditanggapi dengan menggunakan 1/4 dari pengetahuan anak kecil seperti dirinya apalagi harus ditanggapi oleh pasangan calon TERBAIK,” pungkas Ara.

Hal lain turut disampaikan salah satu tim Kuasa Hukum pasangan TERBAIK Hendra Jaka Saputera Mahmud, SH. Ia meminta agar tudingan kecurangan seperti dikatakan Umar Bonte dapat dibuktikan nantinya.

Ia berpesan agar Umar Bonte juga siap menerima konsekuensi hukum jika tidak mampu membuktikan tudingan kecurangan pada proses sengketa di MK. (Red)