Beranda Lainnya Lipsus Mounycia Widava Sami : Pemuda Sebagai Agent of Change dan Social Control

Mounycia Widava Sami : Pemuda Sebagai Agent of Change dan Social Control

263
Mounycia Widava Sami Caleg Prov partai Berkarya no urut satu saat bersosialisasi di Kecamatan Latoma Tua dan Asinua Tua

“Mengusung falsafah Muda, Optimis, Amanah dan Inspiratif”

Kiprah para kaum muda pada panggung perpolitikan di era milenial semakin tumbuh subur seiring berjalannya demokrasi. Tak terkecuali pada Pemilu 17 April 2019 mendatang.

Indonesia membuat sejarah perpolitikan dunia dengan menggabungkan 5 (lima) pemilihan sekaligus, yaitu pemilihan Calon Presiden, calon Anggota DPR RI, calon Anggota DPD RI, calon Anggota DPRD provinsi, dan calon Anggota DPRD kabupaten/kota.

Ajang inipun membuka luas kerang bagi anak-anak muda ikut berkompetisi di ajang lima tahunan ini. Menjadikan Pemilu semakin semarak dengan lahirnya banyak potensi, gagasan dan beragamnya visi dan misi dari masing-masing peserta.

Seperti perempuan muda kelahiran asal Kota Kendari 1991 ini, Mounicya Widava Amiruddin Sami. Hadir sebagai Calon Anggota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Nomor Urut  satu dari Partai Berkarya Daerah Pilihan (Dapil) yang meliputi Konawe, Konawe Utara dan Konawe Kepulauan.

Mounycia saat berdiskusi dengan warga Kecamatan Asinua Tua

Mengusung tagline Muda, Optimis, amaNah dan Inspiratif (Moni). Wanita berumur 27 tahun memilih Partai BERKARYA sebagai kendaraan politiknya menuju kursi parlemen. Bukannya tanpa alasan, mengingat ayahnya Amirudin Sami adalah Ketua DPC Berkarya Konawe Utara.

Ini dianggap sebagi pilihan tepat bagi perempuan muda ini dalam memilih partai besutan Hutomo Mandala Putra atau dikenal Tommy Soeharto.

Menurut wanita yang akrab disapa Moni itu, keikutsertaannya dalam kompetisi di ajang lima tahunan ini tak sekedar pamer slogan atau tagline yang tertulis di baleho, binner ataupun media sosialisasi lainnya.

Tujuannya pun diakuinya guna mewujudkan misi perempuan muda di panggung perpolitikan nasional. Sebagai keterwakilan perempuan, dirinya pun optimis untuk meraih satu kursi di provinsi Sultra.

Kata dia, kurangnya perwakilan perempuan muda dalam memperjuangkan representasi politik anak muda di parlemen membuat
idealisme kaum muda sebagai agent of change semakin luntur.

“Sudah saatnya pemuda melakukan regenerasi politik sebagai Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini,” kata Moni.

Meski begitu, dirinya tak menampik jika keikutsertaannya dalam pesta demokrasi merupakan hal yang baru bagi dia. Namun baginya pertarungan ini merupakan ajang pembuktian bahwa perempuan juga mempunyai kemampuan dalam memperjuangkan aspirasi di parlemen.

“Saya sebagai perempuan ingin membuktikan bahwa perempuan juga punya andil untuk memajukan daerah kita, baik itu melalui sektor pembangunan, pendidikan, kesehatan, wisata, budaya maupun membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” ujar Moni.

Mounycia Widava Sami yang akrab disapa Moni saat berbincang-bincang dengan warga kec Asinua Tua Kabupaten Konawe

Soal kompetensi, alumni pasca sarjana Universitas Taruma Nagara itu siap diadu dalam hal kompetensi. Meski terbilang muda, perempuan kelahiran Kendari 16 Juni 1991 ini banyak belajar tugas-tugas legislasi.

Tidak hanya itu, kepiawaiannya dalam berkomunikasi melalui bahasa Indonesia yang baik mampu menarik simpatik konsituennya dan perlu diperhitungkan oleh sederet nama besar yang juga maju pada ajang bergengsi ini.

Saat ini dirinya sudah berkeliling di tiga kabupaten yang menjadi Dapilnya. Hampir semua kecamatan sudah disambanginya untuk mensosialisasikan dirinya, sebagai kaum muda atau perwakilan jender yang juga punya kemampuan dengan calon-calon lainnya yang saat ini ikut bertarung.

Moni mengajak agar masyarakat yang diwakilinya untuk menyalurkan suaranya di bilik suara nanti. Kata dia, satu suara bagi masyarakat merupakan bukti bahwa masyarakat menginginkan adanya perubahan dari berbagai aspek.

“Saya harap masyarakat untuk tidak apatis. Gunakanlah hak pilih untuk memilih wakil rakyat yang tepat,” pungkas Moni. (*)