Beranda Lainnya Sosbud Pak Polisi Berhati Mulia, Bangunkan Rumah Nenek Renta dari Gajinya

Pak Polisi Berhati Mulia, Bangunkan Rumah Nenek Renta dari Gajinya

302
Rumah yang dibangun Bripka M untuk Mak Epong dan anaknya di Kelurahan Puosu, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe.

UNAAHA, – Polisi sebagai pengayom masyarakat kembali ditunjukkan salah seorang anggota kepolisian di Konawe. Ia adalah M, yang memilih merahasiakan namanya, personil Polres Konawe yang baru-baru ini menunjukkan sikap kedermawanan.

Beberapa bulan belakangan ini, M yang bertugas di Satuan Intelkam Polres Konawe berpangkat Brigadir Kepala (Bripka), diketahui sedang menghidupi seorang nenek dan anaknya yang menderita sakit yang sudah menahun.

Tak hanya menanggung segala kebutuhan sang nenek dan anaknya itu berbulan-bulan, Bripka M tak tanggung-tanggung, ia bahkan turut membangunkan rumah layak huni bagi si nenek dan anaknya itu.

Cerita M itu bermula ketika ia mengetahui ada seorang nenek yang hidup serba kekurangan di Kelurahan Puosu, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe, pada September 2018 lalu.

M mendapat infomasi ada nenek bernama Epong Nurhayati (sekira 70 tahun) tinggal bersama anak lelakinya, Kim (berusia hampir 50 tahun).

Sebelumnya, Mak Epong sendiri merupakan warga transmigran tahun 1977 yang tinggal di Kecamatan Moramo (Kabupaten Konawe Selatan Saat ini). Pada tahun 1982, suaminya meninggal dunia.

Mak Epong kemudian hidup menjanda bersama tiga anaknya. Dua anak laki-laki dan satu perempuan. Kala itu Mak Epong menjadi tulang punggung bagi ketiganya. Ia beberja sebagai buruh kasar batu bata merah di Kecamatan Ranomeeto.

Kim tak bisa berbuat banyak membantu ibunya, karena tengah menderita penyakit serius di kemaluannya yang tak kunjung sembuh. Hal itu membuatnya tak bisa beraktivitas mencari nahkah.

Selanjutnya, Mak Epong mengajak ketiga anaknya ke Konawe untuk berkebun diperkebunan milik Saenal di Desa Ambepulu.

Tahap pembangunan rumah Mak Epong.

Tak lama setelah itu, salah seorang anak lelakinya (anak ketiga, red) diambil salah seorang pak haji untuk diasuh. Diketahui, anaknya itu kini telah menjadi pegawai honorer di kantor pengairan Makassar.

Lalu, anak perempuan Ma Epong kemudian menikah dan pindah ke Kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di kebun sawit. Kedua anak yang dalam perantauan itu, hingga kini belum juga belum bisa menghidupi ibunya lantara hidupnya yang juga serba kekurangan.

“Saat mendapati informasi itu, besoknya saya langsung menyambangi rumah Mak Epong,” kata M bercerita saat ditemui awak media, Selasa (5/3/2019).

Dari situ, M lalu ke rumah Mak Epong, disana M kaget melihat kondisi ibu dan anak itu. Betapa tidak, di sana ia menyaksikan pemandangan pilu nan menyayat hati.

Rumah Mak Epong begitu reot, dinding papannya sudah keropos termakan waktu. Atapnya yang dari rumbia sudah bocor di mana-mana. Serta lantai tanah yang lembab kala musim penghujan tiba.

Tak sampai di situ, hati M makin perih saat melihat menu makanan yang disantap Mak Epong dan anaknya. Di sana ia hanya menyaksikan sayur nangka yang di masak dengan air. Tak ada nasi atau lauk.

“Besoknya saya datang lagi untuk memastikan apa yang mereka makan. Dan saya hampir menangis saat menyaksikan isi dapur yang hanya sayur nangka yang sama seperti yang mereka makan kemarin,” kenangnya.

M sempat tertegun. Matanya berkaca-kaca. Ia segera istigfar. Ia membayangkan betapa hina dirinya andai, kedua orang tuanya yang telah meninggal ada di posisi Mak Epong.

“Saya tidak bisa bayangkan kalau itu terjadi kepada kedua orang tua saya. Saat itu saya sempat sampai menangis memikirkan itu,” tuturnya.

Tak menunggu lama, M langsung bergegas ke toko. Ia membeli beras, mi instan, telur dan gula. Setelah itu ia kembali ke rumah Mak Epong untuk menyerahkan barang belanjaan itu. M juga memberikan uang dan membayarkan listrik.

Hari demi hari berlalu. M selaku menyeluangkan waktu untuk ke rumah Mak Empong. Setiap berjunjung, ia selalu membawa Sembako. Tak lupa juga ia selalu menanyakan kondisi kesehatan Mak Epong.

Kunjungan demi kunjungan yang dilakukan M kian meneguhkan hatinya untuk membantu Mak Epong lebih banyak lagi. Ia pun berkeinginan untuk membangunkan tempat hunian yang layak untuk Mak Epong.

Ia pun mulai menabung. Setiap menerima dana operasional dari instansi tempat tugasnya, ia selalu sisipnya. Dana remunirasi juga ia selalu sisipkan.

Pernah juga ia mengutang di bedahara kantornya. Hal itu ia lakukan saat hendak membeli bahan untuk membangun rumah Mak Epong tapi uangnya tak cukup.

“Bahkan uang arisan istriku pernah saya ambil tanpa sepengetahuannya. Kalau dia tanya, kadang saya berkelit. Semua itu saya lakukan demi mewujudkan niat untuk membangunkan rumah layak huni untuk emak,” ceritanya sembari tersenyum mengenang tindakan nekatnya itu.

Setelah merencanakan pembangunan sejak September 2018, mimpi M untuk Mak Epong pun terwujud. Pembangunan rumah yang layak huni itu akhirnya terwujud.

Kini Mak Epong dan anaknya sudah menempati rumah hasil perjuangan dari empati sang pak polisi.

“Alhamdulillah, setelah mengumpul-ngumpul uang dan DO barang di toko, akhirnya selesai juga rumah untuk Mak Epong. Walau tidak seberapa, paling tidak Mak Epong sudah tidak kehujanan lagi saat hujan tiba,” pungkasnya. (Red)