Beranda Kampung Ekonomi Setelah ‘Ngamuk’, Pedagang Ini Baru Diberi Lapak di Pasar Sampara

Setelah ‘Ngamuk’, Pedagang Ini Baru Diberi Lapak di Pasar Sampara

431
Jamal, pedagang yang nyaris tak kebagian lapak
Jamal, pedagang yang nyaris tak kebagian lapak

Kampung Konawe
Unaaha, – Usai diresmikan Ketua DPRD Konawe Rabu (24/1/2018) kemarin, Pasar Kapita Lau Dalami Kecamatan Sampara Konawe kini siap dimanfaatkan oleh warga sekitar yang berprofesi sebagai pedagang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, sebelum  diresmikan, terlebih dahulu, Senin (22/1/2018) pihak pengelola pasar tersebut melakukan pembagian dan pengundian/pencabutan lapak pasar. Hal itu dilakukan untuk menentukan posisi masing-masing pedagang.

Namun harapan akan terjadi azas keadilan tersebut ternyata hanya sebatas harapan saja. Lapak yang sejatinya diperuntukkan kepada pedagang pasar tersebut ternyata diberikan kepada oknum tertentu yang nota bene bukan pedagang.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Jamal, warga Kelurahan Sampara. Menurut Jamal, dirinya selaku pedagang pasar yang bergerak di bidang usaha sembilan bahan pokok (Sembako) nyaris saja tidak mendapatkan tempat untuk berjualan. Karena kata dia, dirinya tidak mendukung salah satu pasangan bakal calon Bupati Konawe.

“Saya tidak diberi tempat untuk berjualan lapak karena saya dukung pasangan lain. Tapi biar bukan penjual asal dukung salah satu pasangan calon Bupati pasti dapat,” keluh Jamal.

Menurut Jamal, awalnya dirinya tidak mendapat tempat lapak. Kata dia, pada saat pengundian/pencabutan undian dirinya dapat undangan. Karena datang terlambat akhirnya pria yang mengaku sudah puluhan tahun menggeluti pekerjaan berdagang sembilan bahan pokok itu nyaris tidak mendapat tempat untuk berjualan.

“Awalnya saya tidak dapat lapak. Maka itu saya mengamuk di pasar, setelah itu saya pulang ke rumah. Sesampai di rumah baru ada seseorang yang datang bawakan kunci lapak,” tuturnya.

Sebagai pedagang lama, Jamal sangat kecewa kepada pihak pengelola pasar Kapita Lau Dalami. Menurutnya, pihak pengelola mestinya memprioritaskan pedagang lama, baru mengakomodir pihak-pihak yang baru mau memulai usaha. Bukan sebaliknya, karena kepentingan politik pelaku pasar yang sebenarnya yang akan disingkirkan.

“Itu Wahid, Tono dan Baber mereka bukan pedagang pasar. Dia tidak pernah menjual di pasar tetapi dapat lapak hanya karena orangnya si calon bupati tadi,”ujarnya.

Jamal menuturkan, di pasar lama dirinya diberi dua lapak tempat untuk menjual. Sejatinya, ketika pasar Kapita Lau Dalami difungsikan dirinya pun berharap mendapatkan dua lods untuk tempat menjual dan menampung barang dagangannya.

“Seharusnya saya dapat lods karena saya sudah lama berjualan.Karena saya ditau dukung kandidat lainnya saya tidak bisa dapat lapak. Sementara yang lain ada yang dapat dua lapak. Nantipi saya habis mengamuk baru diantarkan satu kunci ke rumah saya,” tuturnya. (KS/Red)