Beranda Kampung Sultra Sindir Tiga Program Bupati Konut, Ketua PGK, Sigit: Gagal Semua

Sindir Tiga Program Bupati Konut, Ketua PGK, Sigit: Gagal Semua

168
Ketua GPK Konawe, Sigit Tosepu

UNAAHA, – Di akhir masa jabatan Bupati Konawe Utara (Konut) Ruksamin, sejumlah program yang dicanangkannya kini dipertanyakan manfaatnya. Adalah lembaga Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) yang ikut berkomentar.

Ketua PGK, Sigit Tosepu berkomentar, terobosan Bupati Konut, Ruksamin selama menjabat ia nilai tidak memberikan efek positif terhadap pembangunan daerah maupun ekonomi masyarakat.

Malah sebaliknya, penilaian Sigit, dari tiga program unggulan yang notabene jadi kebanggaan Bupati Konut malah banyak merugikan masyarakatnya, dan gagal dalam pengamatannya.

Tiga program unggulan yang dimaksud, kata Sigit, yaitu program English Camp (Kampung Inggris), Pengembangan budi daya tanaman jagung, dan pembangunan Smelter MBG.

Program pertama, English Camp atau Kampung Inggris. Kata dia, ini program 100 hari kepemimpinan Bupati Ruksamin dan Wabup Raup kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, program tersebut tidak membawa pengaruh baik bagi masyarakat Konut.

“Program ini menghabiskan dana yang begitu besar. Apa lagi sebagian anggaran tersebut berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tiap sekolah, jelas sangat merugikan,” kata Sigit.

Kedua, program swasembada jagung. Program penanaman jagung hibrida merupakan program nasional dan merupakan perintah Presiden Joko Widodo saat itu.

Alih-alih sebagai upaya mendongkrak poduksi jagung nasional, program yang satu ini, dengan progres menanam jagung di atas lahan lebih kurang 10.000 hektar justru mendatangkan kerugian langsung pada masyarakat.

“Program ini tidak hanya gagal total, tapi merugikan besar petani karena saat itu terpaksa petani harus mengembalikan uang kredit di bank,” ujarnya.

Yang ketiga, program pembangunan smelter. Saat itu Pemerintah Daerah Kabupaten Konut menggandeng salah satu perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) yaitu Made By Good (MBG) Group melalui anak usahanya PT MBG Nikel Industri.

Malang tak dapat ditolak, pasca peresmian pada 2 Januari 2018 lalu yang ditandai dengan peletakkan batu pertama, pembangunan pabrik nikel PT MBG yang berlokasi di Kecamatan Molawe, itu sampai hari ini tak kunjung dilanjutkan. Niatan Ruksamin pun untuk memproteksi tenaga lokal malah berbuntut harapan

Tak sampai situ, Sigit turut menyindir soal pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi para korban banjir 2019 lalu yang berada di Desa Puusuli Kecamatan Andowia.

Sigit menduga, perencanaan Pemda Konut dalam membangun Huntara tak sepenuh hati, sebabnya Hunara yang ada seperti kondisi yang ia temui langsung kata Sigit, tidak layak untuk ditempati dari seluruh aspek.

“Seharusnya pak Ruksamin memastikan benar Huntara yang dibangun menjadi tempat yang layak nyaman dan aman untuk para pengungsi korban banjir,” ucap Sigit.

Sigit pun menyampaikan, agar Bupati Konut tak terlalu berbangga diri dengan program-programnya itu, karena katanya, sampai saat ini belum juga ada dampak positif yang diberikan kepada masyarakat.

“Harapan kami, jangan menjanji masyarakat soal program. kalau program yang kemarin saja belum dituntaskan,” pungkas Sigit. (Red)