Beranda Kampung Ekonomi Tiga Ribu Warga Konawe Masih Pengangguran

Tiga Ribu Warga Konawe Masih Pengangguran

115
Ilustrasi lowongan kerja (Foto/Medcom.id)
Ilustrasi lowongan kerja (Foto/Medcom.id)

UNAAHA, – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Konawe mengeluarkan data tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada bulan September 2019 di angka 3010 jiwa dari jumlah usia angkatan kerja.

Jumlah ini diakui naik 0,25 persen dibanding bulan Agustus 2019 yang hanya tersisa 2984 jiwa atau satu persen dari jumlah usia angkatan kerja Konawe.

Angka ini sendiri jika bandingkan dengan bulan Agustus 2018, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe, mengalami penurunan sebesar 2,1 persen dari 3,26 persen atau berkurang 4854 jiwa dari 7864 jiwa.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara mengatakan, angka pengangguran di Konawe harusnya sudah tak ada lagi mengingat banyaknya sektor penerimaan tenaga kerja.

Namun jika kondisinya demikian, Gusli menyatakan akan kembali menginvetarisasi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Konawe. Utamanya dalam hal penerimaan karyawan.

“Kita tahu di Morosi pekerja kita ada 6000 orang pekerja. Diawal kami masuk itu ada tujuh ribuan pengangguran. Harusnya angka-angka itu sudah selesai,” kata Gusli ditemui, Rabu (23/10/2019).

Adapun seribuan lainnya, lanjut dia,  masuknya perusahaan sawit sudah bisa menutupi jumlah itu. Jadi, dari tujuh ribuan pengangguran sebelumnya sudah bisa terselesaikan.

Untuk itu, Gusli menyebut, ia bersama Nakertrans akan menemui perusahaan-perusahaan yang ada dan akan menekan agar penerimaan tenaga kerja lokal warga Konawe diperbesar.

“Kita akan genjot agar rekrutmen pekerja ke depan mengutamakan warga ber-KTP Konawe bukan domisili,” ujarnya.

Gusli kemudian mengungkapkan, harapannya untuk masyarakat. Ia ingin, masyarakat bisa melirik sektor lain di bidang ekonomi mikro, seperti bertani dan beternak dengan cara moderen.

Seperti programnya bersama Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa yang berfokus pada kesejahteraan, kemandirian dan kedaulatan pangan.

“Saya senang ketika masyarakat memilih jadi seorang peternak dan petani milineal daripada harus menjadi buruh perusahaan,” pungkasnya. (Red)